Berpuasa di Stuttgart

October 15th, 2007 by lutfi198

Tak terasa sudah hampir tiga tahun saya bersama keluarga besar Stuttgart. Banyak teman baru yang datang maupun teman lama yang sudah pulang berbakti di negeri tercinta, Indonesia. Tak terasa pula dua idul fitri dan satu idul adha saya ikuti di kota ini. Banyak sekali petualangan dan pengalaman yang saya terima disini. Apalagi ketika puasa kemarin, hanya satu kali saya berbuka puasa, itupun karena saya sakit karena keracunan nasi basi:) Inilah akibat kemalasan saya untuk menanak nasi sebelum sahur yang akibatnnya nasi yang agak basi pun saya sikat habis dengan asumsi baunya masih seperti nasi biasa.
Tentunya sudah dapat kita kira, puasa di negara yang minoritas Islamnya, sungguh sulit untuk berpuasa yang khusyu’. Dari tayangan televisi dan iklan yang kurang senonoh yang dapat kita lihat di jalan umum ditambah cuaca yang cukup panas membuat pemandangan harus benar-benar dijaga. Barulah saya teringat betapa nikmatnya berpuasa di negeri tercinta, Indonesia, dimana kegiatan selama bulan Ramadhan begitu terasa dan mudah diketemukan walaupun agak terkotori oleh sifat konsumenisme yang digembor-gemborkan selama bulan ramadhan dibungkus dengan alasan mulia yaitu harus tampil baru sesudah ramadhan.
Di kota ini, Stuttgart, untuk tidak berpuasa sangatlah mudah, dari alasan kita musafir sampai dengan tidak akan ada yang melihat perbuatan kita jika berbuka. Kedai kopi, dan restoran berjejer di sepanjang jalan atau yang paling mudah masak saja sendiri. Disinilah godaan yang sangat besar, apalagi disini jarang sekali orang yang akan mengingatkan jika kita tidak berpuasa. Tapi ada yang menarik, di toko makanan kesukaan saya di daerah Feuerbach, tutup selama bulan Ramadhan, dan ada juga yang tidak buka ketika siang hari. Mereka tidak takut akan kekurangan rezeki karena mereka yakin rezeki dari Allah. Tidak ada disini warung setengah malu ataupun lembaran kain menutup selama bulan ramadhan. Buka atau tidak sama sekali. Argumen yang akan saya selalu ingat, masa keuntungan selama sebelas bulan lainnnya tidak bisa menutupi untuk bulan Ramadhan.
Ifthar dapat ditemui di hampir semua masjid, ada yang tiap hari ataupun yang akhir pekan saja. Menunya sangat lengkap dari makanan ringan sampai dengan makanan utama. Semua masjid menyajikan semua menunya. Makanya tidak heran ketika bulan Ramadhan bukannya turun berat badannya, malah naik karena ada perbaikan gizi setiap hari:)

Saat bangsa INDONESIA diisolasi dunia internasional…

May 18th, 2007 by lutfi198
Postingan dari temen...

Assalamualaikum wr. wb.

Tahun 1945 kita menyatakan diri merdeka (kalau di SMA dulu, istilahnyaDE FACTO). Di buku sejarah diceritakan, Belanda ingin balik kembali keIndonesia. Maka terjadilah perang kemerdekaan. Baru tahun 1949 (4 tahunkemudian) kemerdekaan kita diakui dunia internasional (kita diajari disekolah dengan istilah DE JURE).

Saat-saat kritis 4 tahun tsb. siapa kira-kira yang paling perduli danmengkampanyekan kemerdekaan bangsa Indonesia ? Pasukan sekutu-kah ?Mereka yang menang perang dunia ke-2 kah ?

Ternyata ditulis di buku sejarah, yang pertama kali mengakui Indonesiamerdeka adalah MESIR. Tokoh-tokoh Islam Mesir pernah menyerukan boikotterhadap kapal-kapal Belanda yang mampir via terusan Suez. Buruh-buruhmesir di kapal mengibarkan bendera merah putih.

Dunia Arab membuat komite solidaritas untuk kemerdekaan bangsaIndonesia. Salah satu anggota nya adalah Mufti Palestina. Saat ituIndonesia belum ada apa-apanya, masih tertatih-tatih. Para pemimpin kita(H. Agus Salim dll) mengunjungi dunia Arab untuk minta dukungankemerdekaan.

Maka entahlah, apa kata kita sekarang. Saat anak-anak menangis karenalapar, orang yang sedang sakit terus merintih karena tidak ada obat,dll. Dan itu semua hanya karena diisolasi, bantuan ditutup. Pelajaranbagi kita untuk perduli dan berbagi, walau hanya dengan sekeping uanglogam.

"Barangsiapa tidak perduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukangolongan mereka". [Al Hadits]

Problem when Installing Debian with ATI VGA Card

May 10th, 2007 by lutfi198

If you found problem to start x-window in your debian system maybe this is the answer.

First you must install all the packages for ATI driver. The packages are fglrx-driver (the core driver, you can install only this package but you won’t get 3D capabilities, not worthed hah), fglrx-kernel-src (the driver to enable your 3D power), fglrx-control (control panel for your ATI). Because the driver place in Non-Free directory in Debian, you won’t find it in your CD or DVD distribution so you must download them with your self.  There are several ways to install and get the packages.

I assume that you are root and use the i386 platform

1a. Install and get the packages with apt-get command
apt-get install fglrx-driver fglrx-kernel-src fglrx-control
if you don’t need the last two just exclude them

1b. Download with your browser and install in your home directory, if you used lynx you will get some problem when installing directly from the website. install in home directory with

dpkg -i fglrx-driver_8.28.8-4_i386.deb
dpkg -i fglrx-kernel-src_8.28.8-4_i386.deb
dpkg -i fglrx-control_8.28.8-4_i386.deb

Make sure that all the depended package are already installed.
The information can be found in http://packages.debian.org/stable/x11/

2. Compiling the kernel

module-assistant prepare
module-assistant update
module-assistant a-i fglrx

It will arise some errors but no problem just do the next step

3. Execute this command

aticonfig –initial

4. Confirm if it works

fglrxinfo

5. Try the x-window if you have any problem, execute this command

dpkg-reconfigure xserver-xorg (for debian 4)
dpkg-reconfigure xserver-xfree86 (for debian 3)

6. Try again the x-window if you have the x-window started but with blur image try step 3 again, after that execute startx to start x-window

I hope your debian will works as mine, feel free to ask

salam,
SAdr LM

Pekerjaan: Menunggu

May 6th, 2007 by lutfi198

Untuk sebagian orang pekerjaan saya mungkin dianggap sangat remeh, saya hanya seorang penjaga karcis. Tiap hari saya hanya duduk di kursi bundar yang tidak ada sandarannya. Di tangan selalu ada jegregran untuk menandakan bahwa karcis itu telah terpakai. Saya sudah bekerja disini sejak namanya masih PJKA, kereta api pada saat ini lebih ramah daripada sekarang. Meskipun kelas eksekutif belum ada, kelas bisnis dan ekonomi sangat nyaman. Tidak adanya pengamen yang masuk dan penjaja makanan membuat penumpang merasa nyaman. Jika perlu makanan penumpang itu akan beranjak keluar atau sekedar menengok dan memanggil penjual yang sudah siap sedia.
Sudah dapat diduga, gaji penjaga karcis sangatlah kecil. Tapi saya masih beruntung, teman saya tiap malam harus mencek rel kereta api, sendirian lagi. Pernah ada yang ingin membantu tapi di tengah jalan orang itu ijin minta pulang, karena dia kecapaian. Dengan gaji yang seadanya saya bisa menghidupi istri dan 3 orang anak saya. Yang paling besar sekarang sudah mulai masuk Universitas Negeri di jakarta. Memang rejeki itu tidak mungkin salah alamat, ada seorang mahasiswa pernah bilang ke saya, kalau negara kita tidak korupsi, pegawai negeri bisa digaji sekitar 8 juta. Wah saya pikir kalau jadi pegawai negeri gajinya segitu, pasti banyak yang ingin jadi pegawai negara, mana mungkin saya diterima. Saya yang cuman lulusan SD. Saya berjanji kepada diri saya sendiri supaya anak-anak saya tidak mengalami nasib yang seperti saya, seorang lulusan SD.
Ada satu hal yang membuat saya senang menjadi penjaga karcis. Saya selalu bertemu dengan orang-orang baru tetapi ada juga orang-orang yang sudah rutin naik kereta api, ditambah juga raut muka ceria ketika orang-orang sudah berkumpul dengan keluarga atau temannya. Tidak dapat dipungkiri juga saya sering terharu ketika melihat orang berpisah, tetapi dibalik keterpisahan itu saya melihat secercah harapan dan semangat.
Harapan dan semangatlah yang membuat saya betah disini. Harapan hari esok lebih baik bagi saya dan keluarga. Semangat dalam berbuat yang terbaik untuk hidup yang sekali ini. Jam kerja saya sudah habis, kuraih tas dan sepeda yang terkunci di pintu belakang. Kukayuh sepeda dengan harapan mendapat sambutan hangat ketika pulang.

Ego dan egois

May 3rd, 2007 by lutfi198

Ada satu hal yang sangat kurasakan jika sudah lama tinggal disini, yaitu ego ku yang semakin bertambah. Ego untuk menjadi apa yang di sebut orang. Kadang ego itu bagus jika egonya didorong untuk semangat belajar dan beribadah supaya lebih baik daripada orang lain bukan untuk menjatuhkan atau menelantarkan orang yang meminta bantuan, tetapi yang sering saya rasakan adalah ego yang lebih condong kepada keakuan. Ketika orang ada yang meminta bantuan, sering tersirat ini orang muncul pas perlunya saja, atau ketika ada patungan makanan dipilih harga yang paling murah alias super hemat atau bisa juga disebut kikir.
Ego ini sangat susah dihilangkan, mungkin pengaruh lingkungan yang dapat berupa interaksi manusia juga pengaruh cuaca yang membuat orang jadi membosankan dan harus bertahan hidup sendiri dalam menghadapi perubahan iklim. Tetapi untungnya ada teman yang merasakan hal yang sama dan kita berusaha untuk saling menasehati jika ada kesalahan atau sikap yang terasa di luar batas. Mungkin saja ketika nasehat itu dikeluarkan secara spontan, otomatis kadang-kadang kita merasa tersinggung juga. Tapi untunglah ketersinggungan itu hanya bersifat sementara karena kita mengetahui bahwa orang itu melakukan tersebut karena perhatian sama kita, supaya kita sama-sama tidak terjerumus ke dalam jurang ego yang negatif.
Terima kasih untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikannya.

wass wr wb,
SAdr LM

Berbuka puasa di Jerman

May 1st, 2007 by lutfi198

Mungkin ada orang yang melihat tulisan saya yg sekarang agak aneh, karena tiba-tiba saya menulis tentang bulan puasa di Jerman. Saya hanya ingin menulis tentang apa yang kita kerjakan ketika bulan puasa tapi lebih tepatnya apa yang kita lakukan ketika akan berbuka. Saya masih ingat ketika saya melakukan pertama kali puasa di sini, saya beserta sahabat saya, Fedy, mengidekan bagaimana kalau kita berkelilig masjid untuk berbuka disana, karena di setiap masjid dapat dipastikan semuanya menyediakan makanan untuk berbuka dari makanan ringan sampe yang berat. Tapi sebelum kami melakukan itu, kami berpikir bagaimana kalau nasib kami seperti teman kami di salah satu kota di Jerman karena sangat seringnya mereka makan di satu masjid dalam jumlah yang banyak, panitia masjid itu meminta bantuan mereka untuk melakukan sesuatu. Dan dapat ditebak keesokkan harinya tidak ada mahasiswa Indonesia yang datang ke tempat itu lagi.
Akhirnya kami memutuskan untuk berbuka di sebuah masjid Pakistan, ketika acara berbuka datanglah makanan ringan khas Pakistan bakwan bombay goreng, pertamanya kami agak sungkan untuk mengambil karena baru pertama kali melihat bakwan isinya bawang bombay saja. Tetapi teman kami orang Pakistan yang melihat kami kebingungan memaksa kami untuk mencoba dan ternyata enak sekali, langsung saja jatah 4 orang yang ada di depan kami, kami lahap habis. Selesai makanan pembuka kami pun melakukan sholat Maghrib.
Setelah itu datang menu yang kami tunggu-tunggu yaitu kari kambing beserta roti bantal, khas makanan dari Pakistan, India, Afghanistan, dan sekitarnya. Kari tersebut diletakkan di sebuah nampan yang besar, yang bisa menampung sampai dengan 5 porsi. Tiap-tiap nampan di letakkan di depan sekelompok orang. Kebetulan posisi kami berada di tengah-tengah 2 nampan, tanpa dikomando kami semua berkumpul mengelilingi nampan tersebut. Dan tanpa di komando saya dan fedy harus berbeda kelompok karena porsi makan kami yang cukup dasyat apalagi kalau gratis. Roti pun disebarkan disekeliling nampan, pertamanya saya agak aneh, makan kari dengan roti. Saya melihat orang Pakistan mulai menyobek roti tersebut dan mencelupkannya di nampan sambil mengambil daging dengan bantuan roti tersebut, hebatnya tangannya tidak menjadi basah ketika mengambil daging tersebut. Saya mencobanya tetapi dagingnya jatuh lagi, seorang teman menawarkan apakah saya memerlukan sebuah sendok, saya menolaknya dengan mengucapkan terima kasih. Akhirnya saya berhasil dan ternyata rasannya nikmat sekali. Porsi untuk 5 orang tersebut langsung habis, ketika panitia masjid melihat nampan kami sudah habis, beliau kembali lagi menuju dapur dan membawa sebuah nampan lagi.
Setelah berbuka selesai, yang hadir pun mulai meninggalkan tempat duduk, kami sebelum pulang mengumpulkan nampan-nampang yang ada dan membawanya ke belakang untuk dicuci, tetapi kami dicegah untuk mencuci oleh panitia masjid itu, malahan dia menawarkan kami untuk makan bersama mereka di dapur dan mengambil mangkok dan dipersilahkan mengambil kari di kuali yang besar sekali, mungkin bisa dipakai untuk berendam 2-3 orang anak kecil.
Pengalaman yang lain adalah ketika kami berbuka di masjid Arab, pertama kali masuk masjid, kebetulan kami sudah telat datang sehingga adzan sudah berkumandang. Di pintu masuk masjid berjejer orang menawarkan kurma yang telah dibelinya, karena pahala memberikan sesuatu untuk berbuka sama dengan pahala puasa orang berpuasa. Penuh sesaklah pintu masuk masjid dengan orang-orang yang menawarkan kurma. Ketika saya mengambil satu buah kurma ternyata masih ada batangnya, jadinya sekali ambil sekitar 6 buah kurma saya dapatkan. Alhamdulillah, lebih dari yang biasa dimakan oleh Rasul, karena Rasul berbuka hanya dengan 3 buah kurma saja. Sesudah memakan kurma sholat Maghrib pun kami laksanakan yang dilanjutkan dengan sholat sunnah sesudah Maghrib. Seakan-akan para hadirin sudah mengetahui apa yang harus dilakukan, kami duduk bershaf-shaf dan saling berhadapan. Di depan kami direntangkan plastik yang cukup panjang, kemudian semangkuk sup ayam di distribusikan, Bismillah, enak sekali rasanya. Saya sangka itu merupakan makanan beratnya ternyata apa yang saya fikirkan adalah salah. Datang lagi menu nasi beserta sup kacang merah ditambah dengan daging, porsinya 1,5 kali porsi orang Indonesa yang membuat kami cukup kenyang. Ketika kami beranjak sesudah memakan menu tersebut, kami ditahan oleh rekan kami dari Mesir dan ternyata kami diberi menu penutup, yoghurt khas Arab.
Dijamin puasa di Jerman, adalah perbaikan gizi karena makannya selalu daging dan menghemat uang belanja:). Suatu rahmat Allah untuk para pencari ilmu. Disamping kalau musim dingin puasanya sangat sebentar sekali kadang-kadang sahur pukul 6.30 pagi dan jam 5 sore sudah berbuka.

Aku seorang tentara

April 9th, 2007 by lutfi198

Perkenalkan namaku Jajang, aku berasal dari Garut, tepatnya Leles. Aku adalah seorang marinir. Sekarang sudah 5 tahun lamanya aku mengabdi sebagai seorang tentara. Ini memang jalan hidupku, pilihan yang aku cita-citakan sejak kecil. Pilihan yang terinspirasi oleh Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Pangeran DIponegoro, dan tidak lupa ayahku, seorang laskar jihad yang kembali memilih menjadi petani setelah kemerdekaan.
Aku kadang-kadang bingung ketika teman-teman sering mengatakan bahwa tentara itu terlalu mentaati atasannya. Aku menjadi bertanya, bukankah semua tentara dibentuk untuk melaksanakan perintah atasan. Bagaimana jadinya kalau ketika perang, bawahan menentang segala rencana atasan, bukannya bisa hancur lebur. Jika dalam keadaan biasa, perintah yang dianggap tidak pantas tentunya akan kami pertentangkan meskipun di kemudian hari kami disebut mbalelo tapi itulah konsekuensi kami menjadi tentara. Tentang taat pada pimpinan, aku sering membaca dan mencontoh ketika tentara Thalut menghadapi Jalut. Pada perjalanan menuju medan pertempuran, hari itu panas sekali, tenggorakan sangatlah kering, tetapi di depan sudah terlihat ada sungai atau mata air, kemudian muncul perintah supaya meneguk hanya sekali saja. Tentunya ini perintah yang tidak masuk diakal, bukankah kita sangat kehausan, dan di depan mata kita air sedemikian banyaknya, mengapa kita tidak boleh meminumnya. Atau perintah Umar kepada Khalid tentang penurunan jabatan, khalid juga mentaati tanpa membantah.
Mungkin itu sekelumit tentang mekanisme aturan di tentara. Kalau orang bertanya, bagaimana menjadi tentara. Aku suka menjawab meskipun aku bergaji kecil tapi kalau dari sabang sampai merauke, silahkan tanya padaku insya Allah aku bisa jawab.
Ada tiga hal yang menarik ketika aku bertugas di beberapa daerah di Indonesia. Yang pertama adalah ketika aku berada di sebuah suku di propinsi Sulawesi. Terdapat warga Australia yang gemar sekali menyelam dan melihat terumbu karang. Orang ini menyusuri tepi pantai sehingga sampailah dia di suatu suku yang menangkap ikan dengan menggunakan racun potasium dan bom. Orang asing ini prihatin dengan cara-cara yang mereka perbuat, kemudian dia pulang ke Australia dan meminta ijin kepada istri dan anaknya untuk tinggal di suku tersebut. Dia berada di suku tersebut lebih dari 7 tahun, tapi apa yang didapat. Suku itu sekarang telah sadar akan alamnya dan kemudian tempat itu menjadi konservasi alam ditambah dengan pembiakan ikan. Investor dari singapura dan Jepang sudah menjejakkan bisnisnya di tempat tersebut. Dan yang paling akhir pemerintah daerah baru saja mengadakan penyuluhan. Yang kedua, adalah warga Australia juga, dia adalah seorang penasihat hukum, dia pernah mengurus nelayan Indonesia yang tertangkap di Australia. Dia mendatangi desa tersebut bersama salah satu nelayan yang tertangkap, dia ajari bagaimana menangkap dan membudidayakan ikan tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. Setelah berhasil membina orang tersebut, maka pulanglah orang ini ke Australia. Beberapa tahun lamanya orang ini teringat kembali akan nelayan yang pernah dibantunya, dia menemui nelayan itu yang ternyata sudah menjadi nelayan ikan yang sukses, dan desa tersebut menjadi nelayan teladan dengan konsumen berasal dari Eropa dan Amerika. Menangislah orang Australia, karena haru dan bahagia bahwa orang tersebut dapat mensejahterakan desanya.Yang terakhir ketika aku berada di daerah selatan dari propinsi, di situ terdapat suku yang beragama Islam, mempunyai hukum adat dalam mengunakan alam termasuk mencari ikan. Dan hasilnya daerah tersebut menjadi primadona pariwisata ditambah dengan hasil perikanan yang memadai.
Aku sering berpikir, negara kita ini sangatlah kaya tetapi mengapa masih miskin. Pikirku disebabkan kesalahan manjemen, pemerintah yang tidak peka kepada masyarakatnya, dan mungkin terlalu banyak orang yang rakus akan perutnya. Aku hanya bisa berdedikasi kepada bangsa dan agama ini melalu profesiku sebagai tentara. Cita-citaku adalah menjadi tentara seperti dulu ayahku.

Ilmu dan Pesan Rasulullah

April 6th, 2007 by lutfi198

Assalamu’alaikum wr wb.

Sebenarnya dua Jumat terakhir ini saya mendapat masukan yang sangat menyentuh hati sekali. Yang pertama yaitu kedudukan manusia yang berilmu. Derajat orang yang berilmu sangat ditinggikan oleh Allah swt. Itu sebabnya mengapa ayat yang pertama kali turun ke dunia adalah Iqra yang berarti kaji. Di translasi bahasa Indonesia ditulis baca, padahal arti yang paling tepat adalah kaji karena kita tahu bahwa Rasulullah saw adalah seorang yang ummi yaitu tidak dapat membaca dan menulis. Kemudian dipertegas dengan awal surat yang berbunyi Nunm wal qalami wama yasthuruun, Nun, demi pena dan apa-apa yang dituliskannya. Masih terdapat ayat-ayat yang lain yang mempertegas kedudukan ilmu, tetapi karena keterbatasan penulis maka penulis tidak dapat menulis dan menjabarkan ayat-ayat mana saja. Jika penulis menemukannya, insya Allah akan ditulis. Dan yang paling penting kita menjalankan perintah agama hendaknya juga dengan memakai ilmu.
Khutbah pada hari ini (6.5.2007) pun tak kalah bagusnya, khutbah ini menyambung dengan tulisan saya yg menuliskan dari 114 ribu sahabat Rasulullah saw, yang wafat di Madinah hanya 10000 saja, yang lainnya mengembara untuk berdakwah. Ada pesan dari Rasulullah ketika beliau menyuruh Mushab bin Umair untuk berdakwah di negeri Yaman. Ketika itu Mushab bertanya "Bagaimana saya akan bertemu kembali ya Rasulullah?". Kemudian yang mulia menjawab, "Kita akan bertemu di Surga." Maka berangkatlah Mushab dan beliau kembali ketika Rasulullah sudah wafat. Dan apa yang terjadi, Rasulullah mendatangi Mushab ketika tertidur dan mengatakan "Mengapa engkau kembali (ke Madinah)?", kemudian Mushab pun pergi lagi ke Yaman untuk berdakwah dan wafat disana.
Semoga kita semua dapat berkumpul kembali dan bertemu dengan saudara-saudara kita yang lain di surga yang dijanjikan pada hari yang dijanjikan.

wass wr wb,
SAdr LM

Suatu malam di Bosnia

April 2nd, 2007 by lutfi198

"Aaaaahhhhh", aku terhenyak terbangun dari tidur, "Mimpi itu lagi", kataku dalam hati. Badanku berkeringat dingin, tergambar kejadian pada hari itu, perang saudara Bosnia Serbia. Pagi itu, 2 jam sebelum adzan Subuh berkumandang, rentetan senjata otomatis memecah kesunyian malam. Aku yang masih tertidur pulas, terbangun dan langsung menangis. Keadaan yang sangat gelap karena sudah 3 hari listrik padam, yang terlihat hanyalah lompatan api dari letusan senjata. Pelan - pelan mataku menyesuaikan dengan keadaan sekitar, meskipun masih agak buram, aku dapat melihat ibuku yang masih memakai mukena datang padaku seraya berkata, "Cepat kita pergi ke bunker (tempat persembunyian)". Aku yang bingung dan tercekam takut hanya dapat menuruti kata-kata ibu tanpa bisa berkata apa-apa seakan-akan suaraku habis dimakan oleh kekagetan. Kulihat ayah sudah berdiri di depan pintu memanggul senjata yang sudah dipersiapkannya beberapa hari lalu setelah desa tetangga kami diserang oleh pasukan Serbia. "Anakku, ayo sini", ayahku mendekapku dengan tangan kirinya dan mengangkatku sambil berlalu, tangan kanannya memegang erat senjata AK-47 buatan Rusia.
Sampailah kami pada tempat yang menyerupai bukit kecil, di bagian bawah bukit itu terdapat lekukan agak menjorok ke dalam, hampir mirip sebuah gua, di tempat itu terdapat pintu yang kemudian diketok oleh ayahku. "Siapa itu?", teriak suara laki-laki yang berbicara dengan agak keras. "Laskar Allah", kata ayahku. Laskahr Allah adalah kata sandi yang dipakai untuk memasuki pintu tersebut. Tak lama kemudian pintu itu dibuka, lalu ayah menyuruhku dan ibuku masuk ke tempat itu.
Dapat kulihat bibiku, ibu guru, dan teman-teman bermainku, Hasan, Abdullah, Qosim, dan juga Hamzah menggigil ketakutan di pelukan ibunya yang berusaha menenangkannya, dan ada juga yang menangis tetapi ditahan mulutnya supaya tidak terdengar oleh musuh. Persembunyian ini memang cukup aman, disamping tempatnya berada di pinggir tebing, yang kemungkinan musuh tidak akan mendatanginya kecuali kalau desa kami telah ditaklukan.
Terdengar suara meriam bertubi-tubi, kami semua berteriak karena kaget. "Jangan teriak.", bisik penjaga pintu tadi yang tidak lain adalah pak Hakeem, guru olahraga kami di sekolah dasar. Beliau mengintip ke arah luar melalui lubang kecil yang terdapat pada dinding pintu, seraya mengokang senjatanya untuk jaga-jaga jika ada pasukan Serbia yang mendengar teriakan kami. Tung, tung ,tung, kembali terdengar desingan peluru yang sepertinya berasal dari arah atas, mungkin terkena atap beton bunker yang ditutupi oleh semak-semak.
Di tengah-tengah ketakutan aku pun tertidur kembali di pelukan ibu karena lelah menangis. Kubermimpi diriku sedang berlari di suatu taman bersama orang tuaku, nenek, kakek, bibi, paman, dan saudara-saudaraku yang lain. Tempatnya sepertinya sudah pernah kudatangi sebelumnya, oh ya kebun punya nenek, setiap musim panen kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek dan kakek untuk membantu mereka mengambil hasil panenan. Biasanya saudara-saudara kami yang lain pun hadir, keadaannya hampir menyerupai Idul Adha di desa kami. Indahnya mimpi itu.
Kuterbangun ketika adzan subuh berkumandang seraya diikuti oleh teriakan dari ayahku dan rekan-rekan ayahku. Kulihat badan ayahku kotor terkena lumpur dan terlihat sedikit darah di bajunya. Kubertanya pada ibuku apa yang terjadi, "Kita menang anakku, pertolongan Allah telah datang". Pada hari itu kami menang, tapi kami tidak bisa senang terlalu lama. Setelah sholat Shubuh, kami sekeluarga dan orang-orang desa siap mengungsi ke daerah lain untuk berkumpul dan mengatur kekuatan.
Aku terduduk sebentar di tempat tidurku, lalu kuambil segelas air minum dari dapur.Kejadian 17 tahun lalu sangat membekas di hatiku. Keluarga nenek buyutku yang berjumlah 13 orang habis dibantai kecuali nenek buyutku bersama-sama 3 orang anaknya yang berhasil kabur karena diselamatkan oleh kakek buyutku yang memberanikan diri sebagai martir keluarga. Begitulah sejatinya seorang suami dan ayah yang baik, selalu menjaga keamanan dan kehormatan keluarganya, pesan nenek buyutku yang selalu diucapkan ketika kami berkumpul. Dia juga selalu mengingatkan kami untuk selalu bekerja dengan giat dan serius mengerjakan sesuatu dalam segala hal karena keadaan dapat berubah dengan tiba-tiba. Dan tidak lupa selalu beristighfar mengingat Allah setiap saat, karena kita tidak tahu kapan akan dipanggil.
Ketika kuberjalan, kulihat jam dinding yang terletak di bawah foto kakek dan nenekku buyutku ketika Idul Adha setahun sebelum perang terjadi, masih jam 3 pagi. "Ah segarnya tenggorakanku"kataku dalam hati. Kulihat ibu dan ayahku sedang sholat tahajjud, kebiasaan yang tidak pernah hilang sampai sekarang ketika kami sudah berada di jerman. Aku duduk sebentar, sayup-sayup terdengar ayat dari surat Ar-Rahman, "Dan nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?". Kuterdiam dan tanpa terasa air mataku mengalir, kubelokkan langkah kaki untuk mengambil air wudhu seraya berkata, "Tidak ada ya Allah".

Menikah, Kenapa Takut?

February 27th, 2007 by lutfi198

Baru berani nge-ngepos yang begini. doakan yah teman2:) supaya berani melakukannya.

wass wr wb,
SAdr LM

Menikah, Kenapa Takut?
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
———————————————————-

"MENIKAH"

Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas,
menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila
mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang
tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan
institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati
Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita
beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah,
bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan
resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga
resikonya?

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko.
Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak
dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana
lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak
pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang
mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya,
maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah
kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu
bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko
pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan
pernikahan dan menolak perzinaan.

Saya sering ngobrol, dengan kawaan-kawan yang masih
melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya
kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak
pada fondasi yang kuat: ada yang beralasan untuk
mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan
untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini
kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera
menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab
atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk
membenarkan sikap.

Menikah itu Fitrah

Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar
berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa
zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan
berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada
malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan
fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah
rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah
ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida
lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan
mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62).
Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan
mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)

Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan
diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah
meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan
keterkaitan dengan sIstem lainnya yang bekerja secara
sempurna secara universal.

Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang
dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini
dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa?
Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia
dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut.
Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.

Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan,
maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu
sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak
dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk
menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa
sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila
institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa
mansuia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.

Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk
mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah.
Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata
demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah
berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan
kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini
tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata
pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang
Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah
memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling
tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan fitrah
tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna
dan membahagiakan lebih dari daripada bimbingan Allah.

Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini
menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia.
Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah
yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina,
dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini
menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan
adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah
menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa
sesuai dengan fitrahnya.

Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses
penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa
pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak
saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan
juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus
seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong
sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena
merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.

Perhatikan bagaimanan akibat yang harus diterima ketika
institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa
dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua
manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam
bukunya liman yuridduz zawaj mengatakan, "Orang yang hidup
melajang biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir,
impian, dan
sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari
mereka yang telah menikah."

Menikah Itu Ibadah

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya
mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet
bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan
bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari
bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan
Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai
ibadah, "Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi
separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada
Allah pada paruh yang tersisa." (HR. Baihaqi, hadits
Hasan)

Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah
kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita
bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu
merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan
dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari
hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang
yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah
(orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan
menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah
lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum
menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah,
membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari
tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa
pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah
pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda
setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang
tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan
selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong
ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan

Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba
waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia
menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal
waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor
dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil.
Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar
dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila
setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada
kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang
menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang
sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya
penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah
saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang
sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa
penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia
punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin
besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika
tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar
maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.

Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa
Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai
masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa
pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah
yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap
makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada
sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya
seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab
alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan
untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab,
Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang
ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa
ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas
sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar
berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa
merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap
para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah
pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika
menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki
kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua
menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya
telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan
tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah
sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan
diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka
bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan
ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk
memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan
setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki
tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki
itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu
fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un
aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka
dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha
mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari
Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan
pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan
hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata,
"Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi
janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup."
Al-Qurthubi berkata, "Ini adalah janji Allah untuk
memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk
mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan."
(lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’
liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah,
Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan
berkata, "Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah
dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan
memberkahi." (HR. Thabarni). Dalam hadits lain
disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya:
"Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan." (HR.
Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah,
"Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan
Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang
menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau
perbuatan maksiat." (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam
Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian
ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan
hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun
pernikahan.

Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga
yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak
jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah
nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada
sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya.
Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa
Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta
yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan
ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini
bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan
bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan
untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal.
Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya.
Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas
tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul
beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak
harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina.
Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang,
tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena
masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan
saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada
jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang
suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah
rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang
jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan
bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling
menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi
ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu

Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu
terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia
tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas
ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan
menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari
ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha,
seandainya kau infakkan semua usiamu ?untuk mencari ilmu?,
kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya.
Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan
pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah
adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam
Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu
menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar,
hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan
penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah
menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah
doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan
belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan
periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan
penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa
semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada
tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu
atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa
panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita
sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak
menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana
yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu
juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung
kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan
tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya,
jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia
gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari
kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya.
Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia
berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat
mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah
dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan
seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah
jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas
kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan
bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus
dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak
perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah
menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya.
Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih
tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri
yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia
terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus
selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan.
Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama
yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja.
Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para
ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu
tidak maksimal, menikah
juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya
dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah
mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada
waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut
jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak
menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga.
Agar seimbang.

Kesimpulan

Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah
jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan
bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin
diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan
agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika
kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi
dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang
bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita
pindah dari pengertian "pernikahan sebagai beban" ke
"pernikahan sebagai ibadah". Seperti kita merasa senang
menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa
saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang
memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa
beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah
telah tiba "jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada
Allah". Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil
mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan
hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah
tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina.
Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal
perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia,
melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah
mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat
kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba
menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih
Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa
bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun
pernikahan. Wallahu a’lam bishshawab.